Asesmen Formatif, Sumatif, dan Cara Mengolah Nilai Rapor Kurikulum Merdeka

Pahami beda asesmen formatif dan sumatif, serta tiga opsi mengolah nilai rapor menurut PPA 2025: pembobotan, persentase, dan rata-rata, lengkap dengan contoh.
Murid menulis di meja kelas dengan jadwal ujian semester di papan tulis

Foto oleh Jeswin Thomas di Unsplash

“Nilai harian, ulangan, dan penilaian akhir semester dihitung berapa persen?” Itu pertanyaan yang paling sering muncul saat guru menyiapkan rapor Kurikulum Merdeka. Jawabannya tidak sesederhana satu rumus baku.

Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) edisi revisi 2025 dari Kemendikdasmen tidak menetapkan komposisi persen tertentu. Panduan itu menjelaskan prinsip, membedakan dua jenis asesmen, dan memberi tiga opsi pengolahan nilai yang dapat dipilih sesuai karakter materi. Artikel ini merangkumnya dengan contoh angka, mengacu pada dokumen PPA 2025.

Ringkasan Singkat

  • Asesmen formatif memberi umpan balik untuk memperbaiki proses belajar dan tidak dipakai untuk menentukan nilai rapor.
  • Asesmen sumatif menilai pencapaian hasil belajar dan menjadi dasar nilai rapor.
  • Nilai sumatif diolah dengan salah satu dari tiga opsi: pembobotan, persentase, atau rata-rata.
  • Ketercapaian ditentukan per tujuan pembelajaran dengan kriteria, bukan hanya angka.

Perbedaan Asesmen Formatif dan Sumatif

Asesmen formatif

  • Tujuan: memberi umpan balik bagi guru dan murid untuk memperbaiki proses belajar.
  • Waktu: di awal pembelajaran dan selama proses belajar.
  • Risiko: tidak berisiko tinggi.
  • Masuk nilai rapor? Tidak.
  • Contoh bentuk: pertanyaan pemantik, refleksi, jurnal, penilaian antarteman, penilaian diri, observasi kinerja.

Asesmen sumatif

  • Tujuan: menilai pencapaian hasil belajar murid.
  • Waktu: setelah pembelajaran berakhir, misalnya di akhir satu lingkup materi, dan/atau di akhir semester.
  • Risiko: menjadi dasar kenaikan kelas dan/atau kelulusan.
  • Masuk nilai rapor? Ya, sebagai bahan pengolahan nilai.
  • Contoh bentuk: tes tertulis, observasi, praktik, produk, projek, portofolio, studi kasus.

Bagian terpenting ada pada pernyataan di PPA 2025: pendidik tidak menggabungkan hasil asesmen formatif dan sumatif, karena fungsinya berbeda. Formatif bukan penentu atau pembagi nilai akhir, sehingga tugas latihan, kuis kecil, atau pengamatan harian yang tujuannya memberi umpan balik tidak ikut dihitung ke dalam nilai rapor.

Satu hal lagi yang kerap terlewat: asesmen sumatif akhir semester bersifat pilihan. Jika data dari sumatif selama satu semester sudah mencukupi, guru tidak wajib menambahkan asesmen di akhir semester. Guru juga tidak terbatas pada tes tertulis, karena sumatif dapat memakai observasi dan performa seperti praktik, produk, dan projek.

Alur pengolahan nilai rapor dari asesmen sumatif ke capaian tujuan pembelajaran, nilai akhir mata pelajaran, dan rapor, sedangkan asesmen formatif tidak masuk nilai rapor
Dari asesmen sampai nilai rapor menurut PPA 2025.

Tahap 1: Mengolah Hasil Menjadi Capaian Tiap Tujuan Pembelajaran

Sumatif dilaksanakan periodik setiap selesai satu atau lebih tujuan pembelajaran (TP). Hasilnya perlu diolah menjadi capaian tiap TP. Hasil asesmen boleh berupa data kualitatif atau kuantitatif, dan guru diberi keleluasaan mengolah angka secara rerata maupun proporsional.

PPA memberi contoh rubrik dengan empat kualitas: perlu bimbingan, cukup, baik, dan sangat baik. Guru menentukan kualitas minimal yang dianggap tercapai. Misalnya, pada kualitas “cukup”, murid sudah dianggap mencapai kriteria ketercapaian kompetensi.

Dua prinsip penting pada tahap ini:

  • Kriteria bukan hanya angka. Sebelum menyepakati rentang nilai, pendidik menentukan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran dalam bentuk kalimat, misalnya “murid menguasai semua indikator tanpa banyak menghadapi kesulitan”.
  • Ketercapaian ditentukan per TP, bukan dari hasil akhir pengolahan nilai per mata pelajaran. Ketidaktuntasan ditandai pada TP tertentu saja, sehingga orang tua dan murid tahu TP mana yang belum tuntas. Contoh di PPA: pendidik menyepakati rentang 0 sampai 55 belum tercapai dan 56 sampai 100 sudah tercapai. Angka ini hanya ilustrasi, bukan batas baku nasional.

Butuh solusi digital untuk bisnis Anda?

Hubungi Kami

Tahap 2: Tiga Opsi Mengolah Nilai Akhir Mata Pelajaran

Setelah ada capaian dari beberapa TP, guru mengolahnya menjadi nilai akhir satu mata pelajaran dalam kurun pelaporan (biasanya satu semester). Panduan memberi tiga opsi.

  • Pembobotan: tiap sumatif diberi bobot sesuai tingkat kesulitan, lalu dijumlahkan. Cocok untuk materi progresif yang ada lingkup lebih sulit.
  • Persentase: menghitung berapa persen tujuan pembelajaran yang tercapai. Cocok untuk materi progresif atau berkaitan langsung.
  • Rata-rata: merata-ratakan seluruh nilai sumatif. Cocok untuk materi yang bersifat lepas, tiap tujuan pembelajaran tidak menjadi prasyarat tujuan lain.

Kriteria memilih: opsi pembobotan dan persentase dipakai bila materi bersifat progresif atau berkaitan langsung. Contoh dari PPA: pada renang gaya bebas, murid harus menguasai dasar-dasar berenang lebih dulu, sehingga tujuan berikutnya yang lebih sulit layak mendapat bobot lebih besar. Opsi rata-rata dipilih bila tujuan pembelajaran satu tidak menjadi prasyarat tujuan lain.

Contoh perhitungan untuk satu murid

Data diambil dari contoh di PPA 2025: murid bernama Edo mengikuti empat sumatif lingkup materi dengan nilai 85, 83, 60, dan 84. Bobot untuk pembobotan adalah 20%, 20%, 20%, dan 40%. Ambang ketercapaian pada contoh adalah 75.

  • Pembobotan: 85×20% + 83×20% + 60×20% + 84×40%, dibulatkan per komponen: 17 + 17 + 12 + 34 = 80.
  • Persentase: tercapai pada 3 dari 4 tujuan pembelajaran (nilai 60 di bawah ambang 75): 3 ÷ 4 × 100 = 75.
  • Rata-rata: (85 + 83 + 60 + 84) ÷ 4 = 78.

Ketiga opsi memberi angka berbeda untuk murid yang sama. Itu sebabnya sekolah perlu menyepakati satu opsi untuk tiap mata pelajaran sejak awal semester, bukan memilih opsi yang hasilnya paling “menguntungkan” setelah nilai terkumpul.

Ada catatan lain dari PPA untuk TP yang benar-benar berurutan (TP 1 prasyarat TP 2, dan seterusnya): bila data menunjukkan progres, guru cukup mengambil angka akhir pada TP terakhir. Hasil asesmen yang berupa deskripsi kualitatif juga dapat diolah menjadi nilai akhir berupa deskripsi, seperti pada contoh mata pelajaran Informatika SMP dan kompetensi keahlian SMK dalam panduan.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Memasukkan nilai formatif ke nilai rapor. Tugas latihan dan kuis yang tujuannya umpan balik tidak menjadi penentu nilai akhir.
  • Memakai komposisi lama tanpa dasar. Pembagian tetap seperti harian, tengah semester, dan akhir semester belum tentu sesuai dengan pendekatan PPA 2025, yang mengolah nilai dari sumatif per tujuan pembelajaran.
  • Tidak menetapkan kriteria ketercapaian lebih dulu. Rentang angka baru bermakna bila ada kriteria yang menjelaskan kompetensinya.
  • Berganti-ganti opsi di tengah jalan. Satu mata pelajaran sebaiknya konsisten memakai satu opsi dalam satu semester.
  • Hanya angka, tanpa deskripsi. Nilai akhir perlu dilengkapi deskripsi capaian. Cara menulisnya ada di artikel rapor Kurikulum Merdeka.

Dari Konsep ke Alat Bantu

Setelah aturan ditetapkan, perhitungannya bisa diotomatisasi. Untuk sekolah yang baru memulai, rumus ketiga opsi di atas sudah disiapkan dalam artikel cara membuat rapor otomatis di Excel, lengkap dengan template yang bisa diunduh. Bagi lembaga yang membutuhkan input nilai massal, rekap, konversi nilai, dan kenaikan kelas dalam satu sistem, tersedia aplikasi rapor online yang aturan hitungnya diatur sesuai kebijakan sekolah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah nilai formatif masuk ke rapor?

Tidak. PPA 2025 menyatakan asesmen formatif bertujuan memberi umpan balik pada proses, sehingga bukan menjadi penentu atau pembagi nilai akhir. Nilai rapor diolah dari asesmen sumatif.

Apakah asesmen sumatif akhir semester wajib?

Tidak wajib. Asesmen akhir semester bersifat pilihan. Bila guru menilai data dari sumatif selama satu semester sudah cukup, asesmen akhir semester tidak perlu dilakukan.

Opsi mana yang harus dipakai: pembobotan, persentase, atau rata-rata?

Bergantung pada karakter materi. Pembobotan dan persentase untuk materi progresif atau berkaitan langsung, sedangkan rata-rata untuk materi yang bersifat lepas. Keputusan akhir ada pada kesepakatan pendidik di satuan pendidikan.

Berapa nilai ketuntasan minimal yang ditetapkan pemerintah?

PPA 2025 tidak menetapkan satu angka baku. Pendidik menentukan kriteria dan rentang ketercapaian yang disepakati di satuan pendidikan. Angka 56 pada contoh di panduan hanya ilustrasi.

Bagaimana mengolah penilaian yang berbentuk deskripsi, bukan angka?

Hasil tiap sumatif ditulis dalam deskripsi kualitatif sesuai capaian murid, lalu disimpulkan menjadi deskripsi nilai akhir semester yang menyebutkan hal yang sudah dan belum tercapai. PPA memberi contoh untuk Informatika SMP dan SMK.

Sumber: Kemendikdasmen, Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025, bab Pengolahan dan Pelaporan Hasil Asesmen. Angka pada tabel contoh berasal dari panduan tersebut. Sekolah menetapkan sendiri opsi, bobot, dan kriteria yang dipakai.

Seberapa membantu artikel ini?
Terima kasih atas penilaian Anda.
Topik terkaitRapor Online

Punya kebutuhan aplikasi, website, atau sistem untuk bisnis Anda?

Sekawan Media menyediakan layanan pengembangan aplikasi, website, sistem informasi, hingga infrastruktur IT - dari pemetaan kebutuhan sampai implementasi. Ceritakan kebutuhan Anda, tim kami akan bantu mencarikan solusinya.

Hubungi Kami

Artikel Serupa

Grafik analitik kinerja di layar laptop
Barista memakai tablet kasir di kedai kopi
Pelanggan membayar dengan kartu di kasir